Nikmat membawa Sengsara

Posted by dade On Rabu, 17 Juli 2013 0 komentar
Berawal dari sebuah kebijakan pemerintah yang tidak kuat landasan hukumnya,terbentuklah sebuah sekolah dengan label yang cukup keren.Semangat menciptakan sekolah berkualitas sangat jelas kelihatan secara kasat mata dari sarana-prasarana yang berbeda dengan sekolah pada umumnya,belum lagi program-program yang hampir dikatakan menggapai langit serta harganya pun selangit bila harus didanai BOS,tentu saja menjadi sekolah impian bagi semua kalangan masyarakat.Namun sebanding dengan faktanya,biaya untuk masuk sekolah itu pun menjadi masalah besar bagi sebagian masyarakat yang kurang beruntung sehingga timbul lah gejolak yang mengarah pembubaran sekolah tersebut.Ya,..RSBI,itu nama salah satu sekolah yang menjadi impian pemerintah dan sebagian masyarakat yang akan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun sayang beribu sayang imbas dari pembubaran sekolah ini terasa sekali dapaknya bagi sekolah tersebut. Ada beberapa hal yang penulis ketahui berkaitan dengan dampak yang dirasakan oleh sekolah tersebut diantaranya: 1. Masalah kelebihan guru pengajar.Hal ini disebabkan karena pada saat sekolah tersebut bersetatus RSBI, Struktur kurikulumnya lebih banyak ketimbang sekolah lain.Struktur Kurikulum RSBI memili 42 s.d 46 jam per minggu,lebih banyak 10 jam per minggu dengan sekolah lain.Akibatnya,ketika sekarang dihadapkan dengan perubahan status ini menyebabkan ada beberapa orang guru yang tidak mendapatkan jam mengajar.Lebih jauhnya ketika dikaitkan dengan dapodik maka secara otomatis guru tersebut tidak bisa mendapatkan tunjangan profesionalnya. 2. Masalah Sarana-Prasarana.Diakui bahwa RSBI memiliki sarana yang hampir dikatakan lengkap dan canggih,akan tetapi hal ini menjadi bumerang tatkala sekarang dikaitkan dengan pemeliharaannya karena dana yang dimiliki dari BOS sangatlah tipis.Hal ini disebabkan karena jumlah siswa di RSBI dibatasi hanya max 30 orang pe rombel. 3. Masalah Program peningkatan Kualitas juga menjadi konsen sekolah tersebut.Banyaknya program yang mendukung peningkatan kualitas baik bagi Pendidik dan Tenaga kependidikan,maupun untuk siswa,semuanya membutuhkan dana yang cukup tinggi.Rasanya sulit untuk tetap mempertahankan kualitas tanpa dukungan pendanaan yang memadai. Dari ketiga masalah diatas yang paling berat dihadapi adalah masalah kelebihan guru karena hal ini berkaitan dengan hak dan kewajibanya.Ekses dari masalah ini mulai terasa tatkala guru tersebut tidak bisa mendapatkan tunjangan profeionalnya.Sekolah terus memutar otak untuk menyelamatkan hak dari guru-guru tersebut,namun terbentur dengan ketentuan aturan dan informasi yang tidak jelas berhubungan dengan dapodik.Akibatnya tibulah suasana yang tidak nyaman di lingkungan sekolah,saling mencurigai,dan saling ingin menyelamatkan diri.Ekses ini yang sebetul paling berbahaya dalam dunia pendidikan.Sementara kita mengajarkan kerukunan,toleransi,dan saling menghormati kepada siswa,namun berbanding terbalik dengan kondisi riil pada pendidiknya sendiri.lebih dari itu pembuat kebijakan (pemerintah)seolah tidak bertanggung jawab atas hal ini.(aduh jadi pusing...nich)

0 komentar:

Posting Komentar