Pertanyaan Tingkat Tinggi.

Posted by dade On Rabu, 28 September 2011 0 komentar
Setelah kita memahami bahwa pada dasarnya pembelajaran itu untuk mengembangkan kecakapan hidup siswa terutama kecakapan Akademis, maka tentunya dalam memberikan kesempatan untuk siswa mengembangkan kecakapan tersebut perlu kita menyediakan problems material berupa pertanyaan,pertanyaan yang menuntut siswa untuk berpikir dan memcahkan masalah secara empiris dan logis.
Terkadang kita lupa atau tidak sadar pada saat kita memberikan masalah (pertanyaan) selalu berkutat pada pertanyaan yang menuntut skill cognitif atau comprehensif saja, sehingga siswa tidak diberi kesempatan untuk mengeksplore kemampuannya dalam memecahkan masalah.
Untuk menghindari hal itu,marilah kita kembali memahami tentang teori Taxonomi Bloom, yang mengkatagorikan tahapan berpikir siswa kedalam 5 tahapan. Seperti dituliskan pada teori tersebut tahapan berpikir yang paling rendah adalah Recalling (hapalan) diikuti dengan Comprhenting (pemahaman),Applicating (penerapan),Analizing ( menganalisa),Evaluating (menilai) dan Creating( mencipta). Dari kelima tahapan berpikir ini dapat digolongkan kedalam 3 golongan, yaitu ,Recalling (hapalan) dan Comprhenting (pemahaman) digolongkan pada tahapan terendah, Applicating (penerapan) digolongkan sedang dan Analizing ( menganalisa),Evaluating (menilai) dan Creating( mencipta) digolongkan pada tahapan berpikir tinggi.
Dengan mengkatagorikan tahapan berpikir tersebut kita akan sadar pertanyaan seperti apa yang layak untuk diajukan untuk siswa agar mereka mampu berpikir secara empiris dan logis. Dengan pertanyaan tingkat tinggi diharapkan siswa memiliki alur berpikir pemecahan masalah yang sistematis.
Pertanyaan analisis dapat meningkatkan sistematis berpikir karena siswa dituntut untuk mengkait-kaitkan pertanyaan (masalah) tersebut dengan berbagai hal. Dalam kegiatan ini siswa akan berpikir kritis dengan mennganalisa dari berbagai sisi.
Pertanyaan Evaluasi diperlukan agar siswa mampu membandingkan permasalahan dengan hal lain sehingga siswa akan mampu memberikan judgement (keputusan) terhadap permasalahan tersebut.
Pertanyaan Kreasi adalah pertanyaan dengan tahapan berpikir paling tinggi yang menuntuk siswa untuk selain berpikir kritis juga harus memiliki wawasan yang luas atas permasalah tersebut.
Sekedar berbagi, disini saya akan memberikan contoh pertanyaan yang menuntut tahap berpikir tingkat tinggi,namun secara kebetulan latar belakang saya jurusan bahasa inggris maka yang tampil pada tulisan ini dibuat dalam bahasa inggris.
Contoh pertanyaan yang meminta siswa untuk menganalisis :
1. What is differences between ......................?
2. What is the main idea /the topic of paragraph.....?
Contoh pertanyaan yang menuntut siswa untuk melakukan evaluasi :
1. Do you think that is true?Why?
2. What is the suitable title for the text?
Contoh pertanyaan yang menuntut siswa untuk berkreasi:
1. What do you think about .....?
2. What will happen to.....if you.....?
Itulah sekelumit pengetahuan yang penulis dapat mudah-mudahan ada manfaatnya.
READ MORE

Dar's Reflective

Posted by dade On Minggu, 25 September 2011 0 komentar
Banyak cara yang dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah dalam rangkameningkatkan kompetensi guru terutama dalam hal proses belajar mengajar di dalam kelas. Sekolah dapat mengadakan berbagai In House Training,melaksanakan MGMP sekolah,mengirimkan gurunya untuk mengikuti diklat atau pelatihan,ataupun mengadakan suatu seminar yang mungkin dapat meningkatkan kompetensi dan kinerja guru.
READ MORE

Sekelumit tentang kinerja guru di negeri aladin

Posted by dade On Kamis, 15 September 2011 0 komentar
Date: August, 12 undefined | Author : DARSONO

Saya tuliskan semua ini bukan untuk menyindir ataupun melecehkan guru. Saya hanya ingin instropeksi diri atas kelemahan-kelemahan yang ada pada diri saya, untuk selajutnya kedepan saya dapat memperbaiki kinerja saya.
Seiring perubahan yang cepat dalam kehidupan masyarakat, akibat perkembangan ilmu dan teknologi, serta macam-macam tuntutan kebutuhan dari berbagai sektor sangat berpengaruh terhadap kehidupan sekolah. Sekolah sebagai sistem terbuka, sebagai sistem sosial dan sekolah sebagai agen perubahan bukan hanya harus peka penyesuaian diri, melainkan seharusnya pula dapat mengantisipasi perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dalam kurun waktu tertentu. Pendidikan bertugas untuk mengembangkan kesadaran atas tanggung jawab setiap warga negara terhadap kelanjutan hidupnya, bukan saja terhadap lingkungan masyarakatnya dan negara, juga terhadap umat manusia. Pendidikan lingkungan dan kependudukan merupakan salah satu penunjang ke arah kesadaran global ini. Peningkatan rasa tanggung jawab global ini memerlukan informasi yang cepat dan tepat serta kecerdasan yang memadai. Tingkat kecerdasan suatu bangsa yang rendah sukar untuk meningkatkan tanggung jawabnya terhadap perbaikan kehidupannya sendiri, apalagi kehidupan global. Oleh karena itulah, dituntut adanya pendidikan yang berkualitas serta daya kompetitif yang tinggi. Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 Berkaitan dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan di kabupaten Turag, maka perlu dikaji secara mendalam mengenai beberapa hal yang secara langsung turut menentukan keberhasilan pendidikan yaitu, kinerja guru sebagai pelaksana proses belajar mengajar, serta kinerja kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah. Berkaitan dengan permasalahan kinerja guru di wilayah rayon I kabupaten Turag sedikit banyak telah menarik perhatian dari berbagai pihak untuk mengkajinya. Hal ini disebabkan karena banyak factor yang dapat diungkap dari kondisi nyata di sekolah terutama yang berkaitan langsung dengan tugas dan kewajiban guru dalam proses belajar mengajar.
Saat ini setidak-tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru SMP di wilayah rayon I kabupaten Turag, yaitu : pertama, masalah kualitas/mutu guru, kedua, jumlah siswa dalam satu rombel, ketiga, masalah distribusi guru dan masalah kesejahteraan guru.
Pertama Masalah Kualitas Guru
Kualitas guru SMP di wilayah rayon I kabupaten Turag, saat ini disinyalir belum optimal. Berdasarkan data dari dinas pendidikan tahun 2010, dari 435 orang guru saat ini, masih ada 18,3%nya yang belum berijasah sarjana. Realitas semacam ini, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas anak didik yang dihasilkan. Belum lagi masalah, dimana seorang guru (khususnya SMP), sering mengajar lebih dari satu mata pelajaran yang tidak jarang, bukan merupakan inti dari pengetahuan yang dimilikinya, hal seperti ini tentu saja dapat mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal.
Kedua Jumlah Peserta didik dalam satu rombel
Jumlah siswa SMP di dalam satu rombel di wilayah rayon I saat ini dirasakan overload, apabila dikaitkan dengan sarana dan prasarana dan jumlah guru yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yag tersedia saat ini, dirasakan tidak proporsional, sehingga tidak jarang satu raung kelas sering di isi lebih dari 44 anak didik. Sebuah angka yang jauh dari ideal untuk sebuah proses belajar dan mengajar yang di anggap efektif. Idealnya, setiap kelas diisi tidak lebih dari 24 – 30 anak didik untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar yang maksimal.
Ketiga Masalah Distribusi Guru
Masalah distribusi guru yang kurang merata, merupakan masalah tersendiri dalam dunia pendidikan di kabupaten Turag terutama di wilayah rayon I. Di beberapa sekolah mendapatkan proporsi guru dengan kualifikasi akademik yang linier sudah dirasa cukup memadai. Akan tetapi ada beberapa sekolah yang memiliki jumlah guru yang banyak namun memiliki kualifikasi akademik yang tidak linier.Hal ini akan mengakibatkan proses belajar mengajar tidak optimal karena kompetensi akademik dari guru-guru tersebut masih perlu ditingkatkan kembali. Apalagi di daerah-daerah terpencil, masing sering kita dengar adanya kekurangan guru dalam suatu wilayah. Hal ini akan membuat pemerataan pendidikan tidak akan terwujud.
Keempat Masalah Kesejahteraan Guru
Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tingkat kesejahteraan guru-guru kita sangat rendah. Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, bila dibanding dengan PNS dari departemen yang lain, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer. Kondisi seperti ini, telah merangsang sebagian para guru untuk mencari penghasilan tambahan, diluar dari tugas pokok mereka sebagai pengajar, termasuk berbisnis di lingkungan sekolah dimana mereka mengajar. Peningkatan kesejahteraan guru yang wajar, dapat meningkatkan profesinalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru melakukan praktek bisnis di sekolah.
READ MORE

SEKELUMIT TENTANG GURU

Posted by dade On 0 komentar
Guru dan kelemahannya
Date: Juni, 27 undefined | Author : DARSONO

Berkaitan dengan tugas pokok dari guru terutama dalam proses pembelajaran di kelas seperti yang tertera pada Permen 41 tahun 2007 yang dimulai dari perencanaan,pelaksanaan,evaluasi hingga pengawasan, untuk wilayah rayon I kabupaten Turag perlu menjadi focus perhatian bersama. Hal ini didasarkan dari gambaran mutu sekolah yang masih dianggap rendah. Rendahnya mutu sekolah ini dapat terlihat dari pencapaian nilai NUN yang belum optimal dan pencapaian KKM pada tingkat sekolah baik sekolah yang memiliki setatus SPM,SSN maupun RSBI. Tidak tercapainya mutu sekolah pada SMPN di wilayah rayon I kabupaten Turag tersebut berawal dari kinerja guru yang belum optimal terutama proses belajar megajar. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan proses belajar mengajar belum optimal yakni:
1. Guru tidak menggunakan RPP sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran. RPP adalah skenario pembelajaran yang dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam dokumen tersebut tidak hanya berisi kompetensi apa yang akan dicapai tetapi juga memuat secara rinci berapa lama waktu tatap muka dilakukan. Bahkan dirinci pula berapa menit kegiatan awal untuk melaksanakan kegiatan rutin, apersepsi dan penjajagan untuk mengenal bekal awal siswa. Waktu yang digunakan untuk kegiatan inti, dan rincian waktu untuk kegiatan akhir.
Dalam RPP juga tercantum secara jelas alat bantu mengajar apa yang diperlukan dan sumber belajar apa yang digunakan. Demikian pula di dalam RPP juga telah dicantumkan rencana kegiatan penilaian yang merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik keberhasilan guru dalam mengajar.
Kenyataannya RPP tidak difungsikan, bahkan ada guru yang mengajar tanpa bertpedoman pada RPP. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak terarah.
2. Guru tidak mempersiapkan alat bantu mengajar. Alat bantu mengajar sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, sehingga siswa mengetahui secara nyata melalui benda-benda yang nyata. Dengan alat bantu ini pengetahuan tidak hanya berupa verbal, dan bisa mengatasi kesenjangan komunikasi guru dengan siswa. Kenyataannya guru tidak membawa alat bantu mengajar sehingga yang dilakukan hanyalah ceramah-dan ceramah saja.
3. Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa. Pengetahuan tentang kemampuan awal siswa diperlukan oleh guru untuk menetapkan strategi mengajar, bahkan untuk mengajukan pertanyaanpun diperlukan pemahaman tentang kemampuan awal siswa. Dengan memahami kemampuan awal siswa ini guru dapat membantu siswa memperlancar proses pe,mbelajaran yang dilkukan dan memperkecil peluang kesulitan yang dihadapi siswa. Adakalanya satu materi tertentu memerlukan prasarat pengetahuan sebelumnya. Jika pengetahuan prasyarat ini belum dikuasi dan guru sudah melanjutkan pada materi berikutnya bisa dipastikan bahwa siswa akan kesultan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa dideteksi melalui perilaku siswa. Siswa yang tidak dapat mengikuti materi yangs edang dibahas oleh guru cenderung berperilaku “menyimpang” seperti: melamun, menulis atau menggambar yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, berbicara sendiri atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak terkait dengan isi pembelajaran.
4. Penggunaan papan tulis yang kurang tepat pada umumnya guru langsung memulai pelajaran tanpa menuliskan pokok persoalan yang akan dibahas dan tujuan pembelajarannya. Penulisan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran ini berguna sebagai kontrol bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tidak keluar dari jalur. Kecenderungan lainnya adalah penggunaan papan tulis yang kacau. Siswa tidak tahu apa sebenarnya yang dibahas, dan untuk apa hal itu dibahas. Guru terlalu sibuk menulis dan membuat ilustrasi di papan tulis yang kadang-kadang sulit ditangkap siswa dan tidak disimpulkan.
5. Dengan alasan kekurangan waktu seringkali guru tidak melaksanakan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi ini bertguna bagi guru untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pembelajaran yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir kegiatan /bahasan akan bisa mendeteksi siswa mana yang masih kesulitas dan pada bagian apa siswa merasa sulit. Hal ini akan sangat berguna bagi guru dalam membantu siswa
Apabila 5 macam kelemahan guru ini dapat diperbaiki, maka peoses pembelajaran akan menjadi lebih bermutu dan muaranya nanti pada hasil belajar yang lebih baik. Perubahan pada kelima kelemahan tersebut tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa.
READ MORE