Decentralized Base Education

Posted by dade On Sabtu, 06 Februari 2010 0 komentar
There is new education paradigm in sub-province Garut with a support of the aid from DBE3 in the form of trainings for partner and non partner school teachers. This Paradigm has opened understanding to all teacher to conduct their duty eminently and more professional. In other hand, basic concept offered in trainings has led the teachers to start to have critical thinking of study stressfulness in class through an activity named as team teaching and partnership.
  If we comprehend furthermore the soul of the training held by DBE3 tends to improve awareness and an understating of what often told with term Lesson Study (LS) or Classroom Action Research(CAR). This condition can be seen from partnership activity conducted by facilitators to the teachers that has conducted teaching process in the classroom.

Partnership activity tends to inspire their awareness of insuffiency ,constraint and weakness existing at he/she or at its environment. Teacher that execute study in class will be led to feel any less at its it-self and environment during teaching and learning take place. More over, teacher is directed to solve their problems and the most important is they must have strong willing to conduct teaching learning process better in the next period.
READ MORE

Sertifikasi dan Harapan

Posted by dade On Jumat, 05 Februari 2010 0 komentar
Ada yang baru dari pemikiran tentang pendidikan di kabupaten Garut. Hal itu terkuak dengan adanya sertifikasi guru dalam jabatan. Konsentrasi guru dalam mengajar cenderung terganggu dengan adanya harapan mendapatkan tunjangan sertifikasi yang menjanjikan. Ini dapat dilihat dari diskusi,seminar atau acara-acara formal yang dihadiri oleh para guru sedikit banyak mengulas akan apa yang disebut dengan sertifikasi.
Harapan tersebut telah mendorong guru untuk melakukan dua hal yang kurang relevan dengan tugas dan kewajibannya sebagai guru. Kegiatan tersebut sekilas tampak seperti usaha guru untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya,namun apabila diteliti lebih lanjut tampak jelas bahwa mereka mengikuti atau melakukan hal tersebut hanya dilatarbelakangi oleh satu kepentingan yaitu demi bukti fisik untuk pelengkap portofolio sertifikasi.
Salah satu instrumen penilaian dari portofolio adalah dengan memasukan sertifikat pelatihan atau diklat yang telah diikuti. Tidak hanya sertifikat atau piagam penghargaan yang relevan dengan pendidikan saja yang mendapatkan penilaian, akan tetapi sertifikan dan piagam yang tidak relevan pun masih diperhitungkan.Artinya tidak akan ada istilah "sampah" bagi jenis kertas seperti itu. Yang terjadi sekarang ini adalah banyak guru yang berkonsentrasi untuk berlomba-lomba mendapatkan berbagi jenis sertifikat atau penghargaan dengan tanpa mengutamakan kewajibannya sebagai guru. Terkadang guru memiliki pemikiran bahwa konten dari suatu kegiatan kurang begitu penting dan bahkan mereka berfikir bahwa sertifikat/ piagam adalah yang utama.Bila sudah seperti itu maka makna dari suatu kegiatan sudah pupus dengan sendirinya.
Konsentrasi guru dalam melaksanakan pembelajaran didalam kelas terganggu dengan adanya harapan ingin segera mendapatkan tunjangan sertifikasi. Terlebih dengan adanya gap antara guru yang telah tersertifikasi dengan guru yang belum tersertifikasi. Seringkali guru yang belum tersertifikasi merasa iri dengan yang telah tersertifikasi terlebih guru tersebut memang dinanggap tidak layak untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi. Hal itu di dapat dari berbagai sumber dari berbagai sekolah.
Untuk menghindari dua hal tersebut, marilah kita pikirkan bersama pemecahannya.
READ MORE