INDIKATOR KINERJA KUNCI TAMBAHAN (IKKT)

Posted by dade On Kamis, 22 Desember 2011 0 komentar
Siapa yang tak kenal istilah RSBI, sebuah istilah yang sangat populer di dunia pendidikan. Sejak bergulirnya kebijakan adanya sekolah yang berlabel RSBI, semua orang terperangah dengan istilah tersebut, berbagai komentar pun bermunculan.Ada yang mengatakan itu hanya sekedar proyek pemerintah untuk menghambur-hamburkan uang rakyat,ada yang mengatakan itu hanya trik mendapatkan dana dari masyarakat ada pula yang mengatakan bahwa itu adalah program yang sia-sia dan tak akan mendapatkan hasil.
Istilah RSBI sering sekali diplesetkan dengan sebutan "Rintihan Sekolah Bertaraf Internasional",atau "Rintisan Sekolah Bertarif Internasional "dan banyak lagi.Banyak orang bertanya-tanya apa sih bedanya sekolah yang berlabel RSBI dengan sekolah yang tidak berlabel tersebut. Lewat tulisan ini saya akan coba paparkan sedikit apa yang saya ketahui tentang RSBI.
Sahabat pembaca,dalam hidup sering sekali kita merasa enjoy terhadap sesuatu yang telah terbiasa.Kita terkadang enggan menerima sesuatu yang baru yang belum kita kenal yang mungkin akan menyulitkan kita walaupun hal yang baru itu akan membawa kebaikan buat kita.Seperti contoh kita sudah terbiasa menulis dengan menggunakan pensil atau ballpoint dan kita mendapat kesulitan ketika harus menggunakan komputer karena kita harus belajar lagi. Inti kata kita selalu menolak dahulu sesuatu yang baru.
Sama halnya dengan lahirnya RSBI di kalangan dunia pendidikan.Bergulirnya RSBI pada tahun 2007 sebagai angkatan pertama juga menimbulkan berbagai komentar pro dan kontra. Ada yang merasa optimis bahwa program tersebut baik untuk dunia pendidikan ada yang pesimis bahkan kontra dengan menyebutnya sebagai dikotomi pendidikan.Terlepas dari pro dan kontra tersebut marilah kita pahami bersama apa makna dan tujuan dari RSBI tersebut.
RSBI adalah kependekan dari Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.Sebenarnya istilah ini masih banyak diperdebatkan karena standar internasional yang mana yang menjadi acuan.Maka dari itu penulis setuju dengan istilah yang disampaikan oleh Prof. Slamet yang menyebutkan bahwa istilah RSBI itu lebih baik bila menjadi International recognized School atau sekolah yang dikenal oleh internasional. Artinya sebuah sekolah yang dapat diakui sejajar dalam berbagai hal dengan sekolah yang ada di negara maju dapat dikatakan sebagai International recognized School. Untuk mensejajarkan dengan sekolah tersebut tentunya bukan hal yang mudah perlu kerja keras,waktu yang cukup dan dana yang tidak sedikit.Dengan adanya kebijakan dari kementrian pendidikanNasional, maka mulai tahun 2007 lahirlah sekolah sekolah Rintisan tersebut. Sekolah-sekolah ini akan dibina oleh pemerintah selama paling lama 5 tahun dan akan ditentukan nasibnya pada tahun kelima tersebut apakah akan naik menjadi SBI atau tetap atau mungkin kembali ke sekolah biasa.Untuk mewujudkan sekolah RSBI menjadiSBI tentu saja tidaklah mudah.
Seperti yang tercantum pada PP 17 tahun 2010 berkenaan dengan pengelolaan, yang dinamakan sekolah RSBI adalah sekolah yang telah melampaui Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang harus mewujudkan indikator kinerja kunci Tambahan (IKKT). Indikator-indikator tersebut merupakan indikator ciri internasional dari suatu sekolah. Karena RSBI itu sama dengan sekolah yang lain yang melaksanakan SNP, dalam pelaksanaannya RSBI juga melaksanakan kinerjanya berdasarkan 8 standar nasional pendidikan,mulai standar isi,SKL,Proses,PTK,sapras,Pengelolaan,Pembiayaan dan Penilaian. Perbedaanya terletak pada indikator kinerjanya saja. Sekolah SSN,SPM dan dibawahnya melaksanakan pekerjaannya berdasarkan indikator kinerja minimal (IKKM) sementara RSBI kinerjanya didasarkan pada IKKT. Berikut ini penulis akan paparkan IKKT berdasarkan SNP:

1. Standar Isi :

1. Pengembangan isi muatan kurikulum bertaraf internasional dari SKL, SK, KD, dan indikaor-indikator kompetensi terdiri dari pengembangan isi:

(1) mapel matematika

(2) mapel IPA

(3) mapel bahasa inggris

(4) mapel TIK

(5) mapel PTD

(6) Pendidikan Berbasis Keunggulan Global

(7) Program Ekonomi Kreatif

dalam bentuk bilingual

Bila kita melihat indikator diatas untuk standar isi,kita harus berpikir berkenaan dengan berbagai hal diataranya terkait dengan sarpras,SDM dan lainnya.(berlanjut)

READ MORE

REMEDIAL

Posted by dade On Jumat, 16 Desember 2011 0 komentar

PINGIN DIREMEDIAL TEST,......SILAKAN KLIK DISINI
READ MORE

NILAI UAS

Posted by dade On Jumat, 09 Desember 2011 1 komentar
Pingin lihat Nilai UAS Smtr 1 thn 2011
coba klik disini
READ MORE

Kantin Kejujuran

Posted by dade On Senin, 28 November 2011 0 komentar
"Maksud hati memeluk gunung,gunungnya meletus,apa daya tangan tak sampai."Itulah kira kira ungkapan yang cocok untuk sebuah kantin kejujuran yang dilaksanakan di sekolah tempat penulis bekerja.
Kantin ini pada awalnya berdiri atas instruksi dari kejaksaan negeri kabupaten Garut didukung instruksi dari kepala dinas pendidikan kabupaten dan Bupati setempat.Dengan acara ceremonial yang cukup meriah dan disaksikan oleh hampir seluruh kepala SMP se-kabupaten maka berdirilah sebuah kantin yang diberinama "kantin Kejujuran".Latar belakang dari keinginan adanya kantin ini karena mungkin melihat banhwa di negara ini sudah terlalu banyak orang yang tidak jujur terutama para pemimpinnya.Dengan adanya kantin ini diharapkan generasi bangsa 10 samapi 15 tahun kedepan akan dihuni orang-orang yang jujur.Cita-cita itu sangatlah mulia,namun pada pelaksanaannya tidaklah mudah.Coba kita lihat apa yang terjadi pada kantin kejujuran selama ini.Diawal kantin ini dibuka,proses transaksi dilaksanakan dengan dasar kejujuran sehingga tidak diperlukan penjaga kantin.Dengan menyediakan berbagai jenis barang dari mulai makanan,minuman hingga kebutuhan lain yang berkaitan dengan pendidikan ada dikantin ini.Para siswa dapat mengambil barang yang mereka butuhkan lalu menyimpan uang pembayarannya pada tempat yang telah disediakan.Apabila mereka memerlukan pengembalian maka mereka dapat melakukannya sendiri artinya "Selfservice".Ide yang brilian untuk melatih kejujuran sesorang.Namun apa yang terjadi pada saat pengurus kantin ini melakukan perhitungan omset,semuanya berjalan seperti apa yang ditakutkan."untung"? no "Buntung".Barang habis uangpun tak ada.Siapa yang salah kalau sudah terjadi seperti ini.Melihat dari apa yang terjadi berkaitan dengan kantin kejujuran penulis menganggap bahwa usaha tersebut tidak dipikirkan secara matang sebab yang dinamakan menanamkan kejujuran bukan diawali dari sebuah kantin,namun harus diawali dari penanaman nilai-nilai agama pada jiwa siswa.Mulailah dengan menanamkan tauhid sejak dini pada anak didik kita.Bila itu sudah terwujud penulis yakin bukan hanya kantin kejujuran yang dapat didirikan namun "hyper Mall Kejujuran" juga akan dapat terwujud.....wassalam
READ MORE

Reflikasi DBE3

Posted by dade On Senin, 17 Oktober 2011 0 komentar
Saya tuliskan semua ini hanya untuk instropeksi diri sebagai seorang guru....Berawal dari beberapa kesempatan saya untuk menyampaikan materi berkenaan dengan Better Teaching Learning yang kemudian disingkat menjadi BTL yang diselenggarakan oleh Decentralized Based Education (DBE),ada sesuatu yang menggelikan bagi diri saya. Tersadar dari apa yang saya lihat fakta di lapangan,memang dulu saya mengajar sama seperti mereka (teman2 guru yang mengikuti kegiatan).Bila diingat,betapa lugunya saya dalam menjalankan tugas sebagai seorang guru yang hanya membuat siswa datang,duduk,diam tanpa ada aktivitas yang mendorong siswa mencapai kecakapan hidup.
Setelah banyak mendapatkan pelatihan/diklat,saya baru tersadar bahwa tugas dankewajiban seoraang guru itu bukan mengajar,akan tetapi membelajarkan.Terkadang kita lupa akan hal itu sehingga kita enjoy saja di depan menerangkan materi seolah-olah kita itu super star di depan kelas. Kita jejali anak dengan pengetahuan kita, kita jejali anak dengan buku yang ada dan kaku.kita selalu merasa puas tatkala materi buku sudah semuanya tersampaikan.Entah apakah siswa memiliki kemampuan atau tidak kita selalu bangga.Terkadang ada diantara kita yang diakhir semester enggan masuk kelas dan berkelit bahwa materinya sudah semua tersampaikan.....he...he..
Itu ..dulu...Sekarang saya yakin tidak akan ada lagi guru yang seperti itu.Saya percaya bahwa semua guru telah memahami Tujuan pendidikan tingkat Menengah/Dasar.Saya yakin bahwa guru mengetahui bahwa ada empat kecakapan hidup yang sedang dibangun melalui proses Belajar mengajar di dalam kelas yakni; kecakapan hidup personal,Akademis,Sosial dan Vokasional.
Dari keempat kecapan tersebut saya ingin membicarakan tentang dua diantaranya yaitu kecakapan Akademis dan Kecakapan Sosial.Alasan kenapa dua kecakapan ini yang di dahulukan dibahas,karena ini sangat langsung kita praktekan dengan mudah pada kegiatan PBM.
Berkaitan dengan PBM,pendekatan yang cocok untuk mengakomodir kecakapan tersebut adalah dengan pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL). Tujuh pilar CTL ini telah memberi kesempatan pada siswa untuk mendapatkan dua kecakapan tersebut melalui pilar Constructivism,Inquiry,Questioning,modeling,authentic assessment, Learning community dan reflection.(ngantuk...dilanjut)
READ MORE

EDS yang membuat kita terenyuh....

Posted by dade On Rabu, 12 Oktober 2011 0 komentar
Tak menyangka sedikitpun,ketika kita dihadapkan pada suatu fakta dilapangan dengan harapan yang tertulis dalam suatu standar membuat kita bingung dalam menentukan suatu pilihan.Inilah yang terjadi saat kita diwajibkan mengisi instrumen Evaluasi Diri Sekolah (EDS) secara jujur dan beratanggung jawab.Seperti apa yang didapat penulis dalam suatu kegiatan TOT capacity building dari Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan yang dilaksanakan di Grand Pasundan Hotel Bandung pada tanggal 10-14 Oktober 2011.

EDS adalah salah satu instrument untuk mengukur sejauh mana pencapaian implentasi Standar Nasional Pendidikan di dalam satuan pendidikan.Di dalam instrumen tersebut terdapat SNP dengan Aspek dan Indikator pencapaian yang dapat mengukur dan menganalisa sejauh mana suatu sekolah mengimplentasikan 8 standar tersebut.terdapat 3 format EDS yang digunakan secara resmi yang merupakan sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) yakni EDS Kuantitatif,Kualitatif dan On Line yang direleas oleh Dapodik.Ketiga format tersebut pada intinya sama memiliki tujuan mengukur ketercapaian,yang membedakan hanyalah teknik pengisian saja.EDS kuantitatif menggunakan pengukuran secara numeric atau angka-angka,sementara EDS kualitatif menggunakan descriptif dari bukti fisik tentang keunggulan dan kelemahan sedangkan EDS on line memiliki formula gabungan dari keduanya serta direalis secara online dari dapodik melalui situs nspn.dapodik.org.
Pengisia EDS sebetulnya sangat mudah secara teknik baik untuk EDS kuantitatif,Kualitatif maupun untuk On line,namun yang membuat kita susah adalah menentukan pilihan dihubungkan dengan fakta dan realita di sekolah.Ada beberapa hal yang membuat kita susah menentukan pilihan :
1. Pilihan harus mewakili 100% kebenaran dilapangan.
2. Yang mengisi belum tentu mengetahui secara comprehensif dari kondisi nyata dilapangan.
3. Belum dilaksanakan angket isian data kepada seluruh warga untuk mendapatkan data otentik.
4. Masih terdapat unsur perasaan self protection dari pengisi data itu sendiri.
Dari bebarapa alasan diatas yang paling menonjol adalah poin ke 4. hal ini mungkin disebabkan karena ketidaktahuan akan aturan pengisian data atau karena ada rasa gengsi menyampaikan fakta yang senarnya kepada umum.....(BERLANJUT)
READ MORE

Pertanyaan Tingkat Tinggi.

Posted by dade On Rabu, 28 September 2011 0 komentar
Setelah kita memahami bahwa pada dasarnya pembelajaran itu untuk mengembangkan kecakapan hidup siswa terutama kecakapan Akademis, maka tentunya dalam memberikan kesempatan untuk siswa mengembangkan kecakapan tersebut perlu kita menyediakan problems material berupa pertanyaan,pertanyaan yang menuntut siswa untuk berpikir dan memcahkan masalah secara empiris dan logis.
Terkadang kita lupa atau tidak sadar pada saat kita memberikan masalah (pertanyaan) selalu berkutat pada pertanyaan yang menuntut skill cognitif atau comprehensif saja, sehingga siswa tidak diberi kesempatan untuk mengeksplore kemampuannya dalam memecahkan masalah.
Untuk menghindari hal itu,marilah kita kembali memahami tentang teori Taxonomi Bloom, yang mengkatagorikan tahapan berpikir siswa kedalam 5 tahapan. Seperti dituliskan pada teori tersebut tahapan berpikir yang paling rendah adalah Recalling (hapalan) diikuti dengan Comprhenting (pemahaman),Applicating (penerapan),Analizing ( menganalisa),Evaluating (menilai) dan Creating( mencipta). Dari kelima tahapan berpikir ini dapat digolongkan kedalam 3 golongan, yaitu ,Recalling (hapalan) dan Comprhenting (pemahaman) digolongkan pada tahapan terendah, Applicating (penerapan) digolongkan sedang dan Analizing ( menganalisa),Evaluating (menilai) dan Creating( mencipta) digolongkan pada tahapan berpikir tinggi.
Dengan mengkatagorikan tahapan berpikir tersebut kita akan sadar pertanyaan seperti apa yang layak untuk diajukan untuk siswa agar mereka mampu berpikir secara empiris dan logis. Dengan pertanyaan tingkat tinggi diharapkan siswa memiliki alur berpikir pemecahan masalah yang sistematis.
Pertanyaan analisis dapat meningkatkan sistematis berpikir karena siswa dituntut untuk mengkait-kaitkan pertanyaan (masalah) tersebut dengan berbagai hal. Dalam kegiatan ini siswa akan berpikir kritis dengan mennganalisa dari berbagai sisi.
Pertanyaan Evaluasi diperlukan agar siswa mampu membandingkan permasalahan dengan hal lain sehingga siswa akan mampu memberikan judgement (keputusan) terhadap permasalahan tersebut.
Pertanyaan Kreasi adalah pertanyaan dengan tahapan berpikir paling tinggi yang menuntuk siswa untuk selain berpikir kritis juga harus memiliki wawasan yang luas atas permasalah tersebut.
Sekedar berbagi, disini saya akan memberikan contoh pertanyaan yang menuntut tahap berpikir tingkat tinggi,namun secara kebetulan latar belakang saya jurusan bahasa inggris maka yang tampil pada tulisan ini dibuat dalam bahasa inggris.
Contoh pertanyaan yang meminta siswa untuk menganalisis :
1. What is differences between ......................?
2. What is the main idea /the topic of paragraph.....?
Contoh pertanyaan yang menuntut siswa untuk melakukan evaluasi :
1. Do you think that is true?Why?
2. What is the suitable title for the text?
Contoh pertanyaan yang menuntut siswa untuk berkreasi:
1. What do you think about .....?
2. What will happen to.....if you.....?
Itulah sekelumit pengetahuan yang penulis dapat mudah-mudahan ada manfaatnya.
READ MORE

Dar's Reflective

Posted by dade On Minggu, 25 September 2011 0 komentar
Banyak cara yang dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah dalam rangkameningkatkan kompetensi guru terutama dalam hal proses belajar mengajar di dalam kelas. Sekolah dapat mengadakan berbagai In House Training,melaksanakan MGMP sekolah,mengirimkan gurunya untuk mengikuti diklat atau pelatihan,ataupun mengadakan suatu seminar yang mungkin dapat meningkatkan kompetensi dan kinerja guru.
READ MORE

Sekelumit tentang kinerja guru di negeri aladin

Posted by dade On Kamis, 15 September 2011 0 komentar
Date: August, 12 undefined | Author : DARSONO

Saya tuliskan semua ini bukan untuk menyindir ataupun melecehkan guru. Saya hanya ingin instropeksi diri atas kelemahan-kelemahan yang ada pada diri saya, untuk selajutnya kedepan saya dapat memperbaiki kinerja saya.
Seiring perubahan yang cepat dalam kehidupan masyarakat, akibat perkembangan ilmu dan teknologi, serta macam-macam tuntutan kebutuhan dari berbagai sektor sangat berpengaruh terhadap kehidupan sekolah. Sekolah sebagai sistem terbuka, sebagai sistem sosial dan sekolah sebagai agen perubahan bukan hanya harus peka penyesuaian diri, melainkan seharusnya pula dapat mengantisipasi perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dalam kurun waktu tertentu. Pendidikan bertugas untuk mengembangkan kesadaran atas tanggung jawab setiap warga negara terhadap kelanjutan hidupnya, bukan saja terhadap lingkungan masyarakatnya dan negara, juga terhadap umat manusia. Pendidikan lingkungan dan kependudukan merupakan salah satu penunjang ke arah kesadaran global ini. Peningkatan rasa tanggung jawab global ini memerlukan informasi yang cepat dan tepat serta kecerdasan yang memadai. Tingkat kecerdasan suatu bangsa yang rendah sukar untuk meningkatkan tanggung jawabnya terhadap perbaikan kehidupannya sendiri, apalagi kehidupan global. Oleh karena itulah, dituntut adanya pendidikan yang berkualitas serta daya kompetitif yang tinggi. Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 Berkaitan dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan di kabupaten Turag, maka perlu dikaji secara mendalam mengenai beberapa hal yang secara langsung turut menentukan keberhasilan pendidikan yaitu, kinerja guru sebagai pelaksana proses belajar mengajar, serta kinerja kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah. Berkaitan dengan permasalahan kinerja guru di wilayah rayon I kabupaten Turag sedikit banyak telah menarik perhatian dari berbagai pihak untuk mengkajinya. Hal ini disebabkan karena banyak factor yang dapat diungkap dari kondisi nyata di sekolah terutama yang berkaitan langsung dengan tugas dan kewajiban guru dalam proses belajar mengajar.
Saat ini setidak-tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru SMP di wilayah rayon I kabupaten Turag, yaitu : pertama, masalah kualitas/mutu guru, kedua, jumlah siswa dalam satu rombel, ketiga, masalah distribusi guru dan masalah kesejahteraan guru.
Pertama Masalah Kualitas Guru
Kualitas guru SMP di wilayah rayon I kabupaten Turag, saat ini disinyalir belum optimal. Berdasarkan data dari dinas pendidikan tahun 2010, dari 435 orang guru saat ini, masih ada 18,3%nya yang belum berijasah sarjana. Realitas semacam ini, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas anak didik yang dihasilkan. Belum lagi masalah, dimana seorang guru (khususnya SMP), sering mengajar lebih dari satu mata pelajaran yang tidak jarang, bukan merupakan inti dari pengetahuan yang dimilikinya, hal seperti ini tentu saja dapat mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal.
Kedua Jumlah Peserta didik dalam satu rombel
Jumlah siswa SMP di dalam satu rombel di wilayah rayon I saat ini dirasakan overload, apabila dikaitkan dengan sarana dan prasarana dan jumlah guru yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yag tersedia saat ini, dirasakan tidak proporsional, sehingga tidak jarang satu raung kelas sering di isi lebih dari 44 anak didik. Sebuah angka yang jauh dari ideal untuk sebuah proses belajar dan mengajar yang di anggap efektif. Idealnya, setiap kelas diisi tidak lebih dari 24 – 30 anak didik untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar yang maksimal.
Ketiga Masalah Distribusi Guru
Masalah distribusi guru yang kurang merata, merupakan masalah tersendiri dalam dunia pendidikan di kabupaten Turag terutama di wilayah rayon I. Di beberapa sekolah mendapatkan proporsi guru dengan kualifikasi akademik yang linier sudah dirasa cukup memadai. Akan tetapi ada beberapa sekolah yang memiliki jumlah guru yang banyak namun memiliki kualifikasi akademik yang tidak linier.Hal ini akan mengakibatkan proses belajar mengajar tidak optimal karena kompetensi akademik dari guru-guru tersebut masih perlu ditingkatkan kembali. Apalagi di daerah-daerah terpencil, masing sering kita dengar adanya kekurangan guru dalam suatu wilayah. Hal ini akan membuat pemerataan pendidikan tidak akan terwujud.
Keempat Masalah Kesejahteraan Guru
Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tingkat kesejahteraan guru-guru kita sangat rendah. Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, bila dibanding dengan PNS dari departemen yang lain, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer. Kondisi seperti ini, telah merangsang sebagian para guru untuk mencari penghasilan tambahan, diluar dari tugas pokok mereka sebagai pengajar, termasuk berbisnis di lingkungan sekolah dimana mereka mengajar. Peningkatan kesejahteraan guru yang wajar, dapat meningkatkan profesinalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru melakukan praktek bisnis di sekolah.
READ MORE

SEKELUMIT TENTANG GURU

Posted by dade On 0 komentar
Guru dan kelemahannya
Date: Juni, 27 undefined | Author : DARSONO

Berkaitan dengan tugas pokok dari guru terutama dalam proses pembelajaran di kelas seperti yang tertera pada Permen 41 tahun 2007 yang dimulai dari perencanaan,pelaksanaan,evaluasi hingga pengawasan, untuk wilayah rayon I kabupaten Turag perlu menjadi focus perhatian bersama. Hal ini didasarkan dari gambaran mutu sekolah yang masih dianggap rendah. Rendahnya mutu sekolah ini dapat terlihat dari pencapaian nilai NUN yang belum optimal dan pencapaian KKM pada tingkat sekolah baik sekolah yang memiliki setatus SPM,SSN maupun RSBI. Tidak tercapainya mutu sekolah pada SMPN di wilayah rayon I kabupaten Turag tersebut berawal dari kinerja guru yang belum optimal terutama proses belajar megajar. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan proses belajar mengajar belum optimal yakni:
1. Guru tidak menggunakan RPP sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran. RPP adalah skenario pembelajaran yang dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam dokumen tersebut tidak hanya berisi kompetensi apa yang akan dicapai tetapi juga memuat secara rinci berapa lama waktu tatap muka dilakukan. Bahkan dirinci pula berapa menit kegiatan awal untuk melaksanakan kegiatan rutin, apersepsi dan penjajagan untuk mengenal bekal awal siswa. Waktu yang digunakan untuk kegiatan inti, dan rincian waktu untuk kegiatan akhir.
Dalam RPP juga tercantum secara jelas alat bantu mengajar apa yang diperlukan dan sumber belajar apa yang digunakan. Demikian pula di dalam RPP juga telah dicantumkan rencana kegiatan penilaian yang merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik keberhasilan guru dalam mengajar.
Kenyataannya RPP tidak difungsikan, bahkan ada guru yang mengajar tanpa bertpedoman pada RPP. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak terarah.
2. Guru tidak mempersiapkan alat bantu mengajar. Alat bantu mengajar sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, sehingga siswa mengetahui secara nyata melalui benda-benda yang nyata. Dengan alat bantu ini pengetahuan tidak hanya berupa verbal, dan bisa mengatasi kesenjangan komunikasi guru dengan siswa. Kenyataannya guru tidak membawa alat bantu mengajar sehingga yang dilakukan hanyalah ceramah-dan ceramah saja.
3. Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa. Pengetahuan tentang kemampuan awal siswa diperlukan oleh guru untuk menetapkan strategi mengajar, bahkan untuk mengajukan pertanyaanpun diperlukan pemahaman tentang kemampuan awal siswa. Dengan memahami kemampuan awal siswa ini guru dapat membantu siswa memperlancar proses pe,mbelajaran yang dilkukan dan memperkecil peluang kesulitan yang dihadapi siswa. Adakalanya satu materi tertentu memerlukan prasarat pengetahuan sebelumnya. Jika pengetahuan prasyarat ini belum dikuasi dan guru sudah melanjutkan pada materi berikutnya bisa dipastikan bahwa siswa akan kesultan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa dideteksi melalui perilaku siswa. Siswa yang tidak dapat mengikuti materi yangs edang dibahas oleh guru cenderung berperilaku “menyimpang” seperti: melamun, menulis atau menggambar yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, berbicara sendiri atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak terkait dengan isi pembelajaran.
4. Penggunaan papan tulis yang kurang tepat pada umumnya guru langsung memulai pelajaran tanpa menuliskan pokok persoalan yang akan dibahas dan tujuan pembelajarannya. Penulisan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran ini berguna sebagai kontrol bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tidak keluar dari jalur. Kecenderungan lainnya adalah penggunaan papan tulis yang kacau. Siswa tidak tahu apa sebenarnya yang dibahas, dan untuk apa hal itu dibahas. Guru terlalu sibuk menulis dan membuat ilustrasi di papan tulis yang kadang-kadang sulit ditangkap siswa dan tidak disimpulkan.
5. Dengan alasan kekurangan waktu seringkali guru tidak melaksanakan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi ini bertguna bagi guru untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pembelajaran yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir kegiatan /bahasan akan bisa mendeteksi siswa mana yang masih kesulitas dan pada bagian apa siswa merasa sulit. Hal ini akan sangat berguna bagi guru dalam membantu siswa
Apabila 5 macam kelemahan guru ini dapat diperbaiki, maka peoses pembelajaran akan menjadi lebih bermutu dan muaranya nanti pada hasil belajar yang lebih baik. Perubahan pada kelima kelemahan tersebut tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa.
READ MORE