Saya tuliskan semua ini hanya untuk instropeksi diri sebagai seorang guru....Berawal dari beberapa kesempatan saya untuk menyampaikan materi berkenaan dengan Better Teaching Learning yang kemudian disingkat menjadi BTL yang diselenggarakan oleh Decentralized Based Education (DBE),ada sesuatu yang menggelikan bagi diri saya. Tersadar dari apa yang saya lihat fakta di lapangan,memang dulu saya mengajar sama seperti mereka (teman2 guru yang mengikuti kegiatan).Bila diingat,betapa lugunya saya dalam menjalankan tugas sebagai seorang guru yang hanya membuat siswa datang,duduk,diam tanpa ada aktivitas yang mendorong siswa mencapai kecakapan hidup.
Setelah banyak mendapatkan pelatihan/diklat,saya baru tersadar bahwa tugas dankewajiban seoraang guru itu bukan mengajar,akan tetapi membelajarkan.Terkadang kita lupa akan hal itu sehingga kita enjoy saja di depan menerangkan materi seolah-olah kita itu super star di depan kelas. Kita jejali anak dengan pengetahuan kita, kita jejali anak dengan buku yang ada dan kaku.kita selalu merasa puas tatkala materi buku sudah semuanya tersampaikan.Entah apakah siswa memiliki kemampuan atau tidak kita selalu bangga.Terkadang ada diantara kita yang diakhir semester enggan masuk kelas dan berkelit bahwa materinya sudah semua tersampaikan.....he...he..
Itu ..dulu...Sekarang saya yakin tidak akan ada lagi guru yang seperti itu.Saya percaya bahwa semua guru telah memahami Tujuan pendidikan tingkat Menengah/Dasar.Saya yakin bahwa guru mengetahui bahwa ada empat kecakapan hidup yang sedang dibangun melalui proses Belajar mengajar di dalam kelas yakni; kecakapan hidup personal,Akademis,Sosial dan Vokasional.
Dari keempat kecapan tersebut saya ingin membicarakan tentang dua diantaranya yaitu kecakapan Akademis dan Kecakapan Sosial.Alasan kenapa dua kecakapan ini yang di dahulukan dibahas,karena ini sangat langsung kita praktekan dengan mudah pada kegiatan PBM.
Berkaitan dengan PBM,pendekatan yang cocok untuk mengakomodir kecakapan tersebut adalah dengan pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL). Tujuh pilar CTL ini telah memberi kesempatan pada siswa untuk mendapatkan dua kecakapan tersebut melalui pilar Constructivism,Inquiry,Questioning,modeling,authentic assessment, Learning community dan reflection.(ngantuk...dilanjut)
READ MORE
Setelah banyak mendapatkan pelatihan/diklat,saya baru tersadar bahwa tugas dankewajiban seoraang guru itu bukan mengajar,akan tetapi membelajarkan.Terkadang kita lupa akan hal itu sehingga kita enjoy saja di depan menerangkan materi seolah-olah kita itu super star di depan kelas. Kita jejali anak dengan pengetahuan kita, kita jejali anak dengan buku yang ada dan kaku.kita selalu merasa puas tatkala materi buku sudah semuanya tersampaikan.Entah apakah siswa memiliki kemampuan atau tidak kita selalu bangga.Terkadang ada diantara kita yang diakhir semester enggan masuk kelas dan berkelit bahwa materinya sudah semua tersampaikan.....he...he..
Itu ..dulu...Sekarang saya yakin tidak akan ada lagi guru yang seperti itu.Saya percaya bahwa semua guru telah memahami Tujuan pendidikan tingkat Menengah/Dasar.Saya yakin bahwa guru mengetahui bahwa ada empat kecakapan hidup yang sedang dibangun melalui proses Belajar mengajar di dalam kelas yakni; kecakapan hidup personal,Akademis,Sosial dan Vokasional.
Dari keempat kecapan tersebut saya ingin membicarakan tentang dua diantaranya yaitu kecakapan Akademis dan Kecakapan Sosial.Alasan kenapa dua kecakapan ini yang di dahulukan dibahas,karena ini sangat langsung kita praktekan dengan mudah pada kegiatan PBM.
Berkaitan dengan PBM,pendekatan yang cocok untuk mengakomodir kecakapan tersebut adalah dengan pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL). Tujuh pilar CTL ini telah memberi kesempatan pada siswa untuk mendapatkan dua kecakapan tersebut melalui pilar Constructivism,Inquiry,Questioning,modeling,authentic assessment, Learning community dan reflection.(ngantuk...dilanjut)
Tak menyangka sedikitpun,ketika kita dihadapkan pada suatu fakta dilapangan dengan harapan yang tertulis dalam suatu standar membuat kita bingung dalam menentukan suatu pilihan.Inilah yang terjadi saat kita diwajibkan mengisi instrumen Evaluasi Diri Sekolah (EDS) secara jujur dan beratanggung jawab.Seperti apa yang didapat penulis dalam suatu kegiatan TOT capacity building dari Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan yang dilaksanakan di Grand Pasundan Hotel Bandung pada tanggal 10-14 Oktober 2011.
EDS adalah salah satu instrument untuk mengukur sejauh mana pencapaian implentasi Standar Nasional Pendidikan di dalam satuan pendidikan.Di dalam instrumen tersebut terdapat SNP dengan Aspek dan Indikator pencapaian yang dapat mengukur dan menganalisa sejauh mana suatu sekolah mengimplentasikan 8 standar tersebut.terdapat 3 format EDS yang digunakan secara resmi yang merupakan sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) yakni EDS Kuantitatif,Kualitatif dan On Line yang direleas oleh Dapodik.Ketiga format tersebut pada intinya sama memiliki tujuan mengukur ketercapaian,yang membedakan hanyalah teknik pengisian saja.EDS kuantitatif menggunakan pengukuran secara numeric atau angka-angka,sementara EDS kualitatif menggunakan descriptif dari bukti fisik tentang keunggulan dan kelemahan sedangkan EDS on line memiliki formula gabungan dari keduanya serta direalis secara online dari dapodik melalui situs nspn.dapodik.org.
Pengisia EDS sebetulnya sangat mudah secara teknik baik untuk EDS kuantitatif,Kualitatif maupun untuk On line,namun yang membuat kita susah adalah menentukan pilihan dihubungkan dengan fakta dan realita di sekolah.Ada beberapa hal yang membuat kita susah menentukan pilihan :
1. Pilihan harus mewakili 100% kebenaran dilapangan.
2. Yang mengisi belum tentu mengetahui secara comprehensif dari kondisi nyata dilapangan.
3. Belum dilaksanakan angket isian data kepada seluruh warga untuk mendapatkan data otentik.
4. Masih terdapat unsur perasaan self protection dari pengisi data itu sendiri.
Dari bebarapa alasan diatas yang paling menonjol adalah poin ke 4. hal ini mungkin disebabkan karena ketidaktahuan akan aturan pengisian data atau karena ada rasa gengsi menyampaikan fakta yang senarnya kepada umum.....(BERLANJUT)
READ MORE
EDS adalah salah satu instrument untuk mengukur sejauh mana pencapaian implentasi Standar Nasional Pendidikan di dalam satuan pendidikan.Di dalam instrumen tersebut terdapat SNP dengan Aspek dan Indikator pencapaian yang dapat mengukur dan menganalisa sejauh mana suatu sekolah mengimplentasikan 8 standar tersebut.terdapat 3 format EDS yang digunakan secara resmi yang merupakan sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) yakni EDS Kuantitatif,Kualitatif dan On Line yang direleas oleh Dapodik.Ketiga format tersebut pada intinya sama memiliki tujuan mengukur ketercapaian,yang membedakan hanyalah teknik pengisian saja.EDS kuantitatif menggunakan pengukuran secara numeric atau angka-angka,sementara EDS kualitatif menggunakan descriptif dari bukti fisik tentang keunggulan dan kelemahan sedangkan EDS on line memiliki formula gabungan dari keduanya serta direalis secara online dari dapodik melalui situs nspn.dapodik.org.
Pengisia EDS sebetulnya sangat mudah secara teknik baik untuk EDS kuantitatif,Kualitatif maupun untuk On line,namun yang membuat kita susah adalah menentukan pilihan dihubungkan dengan fakta dan realita di sekolah.Ada beberapa hal yang membuat kita susah menentukan pilihan :
1. Pilihan harus mewakili 100% kebenaran dilapangan.
2. Yang mengisi belum tentu mengetahui secara comprehensif dari kondisi nyata dilapangan.
3. Belum dilaksanakan angket isian data kepada seluruh warga untuk mendapatkan data otentik.
4. Masih terdapat unsur perasaan self protection dari pengisi data itu sendiri.
Dari bebarapa alasan diatas yang paling menonjol adalah poin ke 4. hal ini mungkin disebabkan karena ketidaktahuan akan aturan pengisian data atau karena ada rasa gengsi menyampaikan fakta yang senarnya kepada umum.....(BERLANJUT)
