Date: August, 12 undefined | Author : DARSONO
Saya tuliskan semua ini bukan untuk menyindir ataupun melecehkan guru. Saya hanya ingin instropeksi diri atas kelemahan-kelemahan yang ada pada diri saya, untuk selajutnya kedepan saya dapat memperbaiki kinerja saya.
Seiring perubahan yang cepat dalam kehidupan masyarakat, akibat perkembangan ilmu dan teknologi, serta macam-macam tuntutan kebutuhan dari berbagai sektor sangat berpengaruh terhadap kehidupan sekolah. Sekolah sebagai sistem terbuka, sebagai sistem sosial dan sekolah sebagai agen perubahan bukan hanya harus peka penyesuaian diri, melainkan seharusnya pula dapat mengantisipasi perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dalam kurun waktu tertentu. Pendidikan bertugas untuk mengembangkan kesadaran atas tanggung jawab setiap warga negara terhadap kelanjutan hidupnya, bukan saja terhadap lingkungan masyarakatnya dan negara, juga terhadap umat manusia. Pendidikan lingkungan dan kependudukan merupakan salah satu penunjang ke arah kesadaran global ini. Peningkatan rasa tanggung jawab global ini memerlukan informasi yang cepat dan tepat serta kecerdasan yang memadai. Tingkat kecerdasan suatu bangsa yang rendah sukar untuk meningkatkan tanggung jawabnya terhadap perbaikan kehidupannya sendiri, apalagi kehidupan global. Oleh karena itulah, dituntut adanya pendidikan yang berkualitas serta daya kompetitif yang tinggi. Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 Berkaitan dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan di kabupaten Turag, maka perlu dikaji secara mendalam mengenai beberapa hal yang secara langsung turut menentukan keberhasilan pendidikan yaitu, kinerja guru sebagai pelaksana proses belajar mengajar, serta kinerja kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah. Berkaitan dengan permasalahan kinerja guru di wilayah rayon I kabupaten Turag sedikit banyak telah menarik perhatian dari berbagai pihak untuk mengkajinya. Hal ini disebabkan karena banyak factor yang dapat diungkap dari kondisi nyata di sekolah terutama yang berkaitan langsung dengan tugas dan kewajiban guru dalam proses belajar mengajar.
Saat ini setidak-tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru SMP di wilayah rayon I kabupaten Turag, yaitu : pertama, masalah kualitas/mutu guru, kedua, jumlah siswa dalam satu rombel, ketiga, masalah distribusi guru dan masalah kesejahteraan guru.
Pertama Masalah Kualitas Guru
Kualitas guru SMP di wilayah rayon I kabupaten Turag, saat ini disinyalir belum optimal. Berdasarkan data dari dinas pendidikan tahun 2010, dari 435 orang guru saat ini, masih ada 18,3%nya yang belum berijasah sarjana. Realitas semacam ini, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas anak didik yang dihasilkan. Belum lagi masalah, dimana seorang guru (khususnya SMP), sering mengajar lebih dari satu mata pelajaran yang tidak jarang, bukan merupakan inti dari pengetahuan yang dimilikinya, hal seperti ini tentu saja dapat mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal.
Kedua Jumlah Peserta didik dalam satu rombel
Jumlah siswa SMP di dalam satu rombel di wilayah rayon I saat ini dirasakan overload, apabila dikaitkan dengan sarana dan prasarana dan jumlah guru yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yag tersedia saat ini, dirasakan tidak proporsional, sehingga tidak jarang satu raung kelas sering di isi lebih dari 44 anak didik. Sebuah angka yang jauh dari ideal untuk sebuah proses belajar dan mengajar yang di anggap efektif. Idealnya, setiap kelas diisi tidak lebih dari 24 – 30 anak didik untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar yang maksimal.
Ketiga Masalah Distribusi Guru
Masalah distribusi guru yang kurang merata, merupakan masalah tersendiri dalam dunia pendidikan di kabupaten Turag terutama di wilayah rayon I. Di beberapa sekolah mendapatkan proporsi guru dengan kualifikasi akademik yang linier sudah dirasa cukup memadai. Akan tetapi ada beberapa sekolah yang memiliki jumlah guru yang banyak namun memiliki kualifikasi akademik yang tidak linier.Hal ini akan mengakibatkan proses belajar mengajar tidak optimal karena kompetensi akademik dari guru-guru tersebut masih perlu ditingkatkan kembali. Apalagi di daerah-daerah terpencil, masing sering kita dengar adanya kekurangan guru dalam suatu wilayah. Hal ini akan membuat pemerataan pendidikan tidak akan terwujud.
Keempat Masalah Kesejahteraan Guru
Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tingkat kesejahteraan guru-guru kita sangat rendah. Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, bila dibanding dengan PNS dari departemen yang lain, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer. Kondisi seperti ini, telah merangsang sebagian para guru untuk mencari penghasilan tambahan, diluar dari tugas pokok mereka sebagai pengajar, termasuk berbisnis di lingkungan sekolah dimana mereka mengajar. Peningkatan kesejahteraan guru yang wajar, dapat meningkatkan profesinalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru melakukan praktek bisnis di sekolah.
Saya tuliskan semua ini bukan untuk menyindir ataupun melecehkan guru. Saya hanya ingin instropeksi diri atas kelemahan-kelemahan yang ada pada diri saya, untuk selajutnya kedepan saya dapat memperbaiki kinerja saya.
Seiring perubahan yang cepat dalam kehidupan masyarakat, akibat perkembangan ilmu dan teknologi, serta macam-macam tuntutan kebutuhan dari berbagai sektor sangat berpengaruh terhadap kehidupan sekolah. Sekolah sebagai sistem terbuka, sebagai sistem sosial dan sekolah sebagai agen perubahan bukan hanya harus peka penyesuaian diri, melainkan seharusnya pula dapat mengantisipasi perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dalam kurun waktu tertentu. Pendidikan bertugas untuk mengembangkan kesadaran atas tanggung jawab setiap warga negara terhadap kelanjutan hidupnya, bukan saja terhadap lingkungan masyarakatnya dan negara, juga terhadap umat manusia. Pendidikan lingkungan dan kependudukan merupakan salah satu penunjang ke arah kesadaran global ini. Peningkatan rasa tanggung jawab global ini memerlukan informasi yang cepat dan tepat serta kecerdasan yang memadai. Tingkat kecerdasan suatu bangsa yang rendah sukar untuk meningkatkan tanggung jawabnya terhadap perbaikan kehidupannya sendiri, apalagi kehidupan global. Oleh karena itulah, dituntut adanya pendidikan yang berkualitas serta daya kompetitif yang tinggi. Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 Berkaitan dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan di kabupaten Turag, maka perlu dikaji secara mendalam mengenai beberapa hal yang secara langsung turut menentukan keberhasilan pendidikan yaitu, kinerja guru sebagai pelaksana proses belajar mengajar, serta kinerja kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah. Berkaitan dengan permasalahan kinerja guru di wilayah rayon I kabupaten Turag sedikit banyak telah menarik perhatian dari berbagai pihak untuk mengkajinya. Hal ini disebabkan karena banyak factor yang dapat diungkap dari kondisi nyata di sekolah terutama yang berkaitan langsung dengan tugas dan kewajiban guru dalam proses belajar mengajar.
Saat ini setidak-tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru SMP di wilayah rayon I kabupaten Turag, yaitu : pertama, masalah kualitas/mutu guru, kedua, jumlah siswa dalam satu rombel, ketiga, masalah distribusi guru dan masalah kesejahteraan guru.
Pertama Masalah Kualitas Guru
Kualitas guru SMP di wilayah rayon I kabupaten Turag, saat ini disinyalir belum optimal. Berdasarkan data dari dinas pendidikan tahun 2010, dari 435 orang guru saat ini, masih ada 18,3%nya yang belum berijasah sarjana. Realitas semacam ini, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas anak didik yang dihasilkan. Belum lagi masalah, dimana seorang guru (khususnya SMP), sering mengajar lebih dari satu mata pelajaran yang tidak jarang, bukan merupakan inti dari pengetahuan yang dimilikinya, hal seperti ini tentu saja dapat mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal.
Kedua Jumlah Peserta didik dalam satu rombel
Jumlah siswa SMP di dalam satu rombel di wilayah rayon I saat ini dirasakan overload, apabila dikaitkan dengan sarana dan prasarana dan jumlah guru yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yag tersedia saat ini, dirasakan tidak proporsional, sehingga tidak jarang satu raung kelas sering di isi lebih dari 44 anak didik. Sebuah angka yang jauh dari ideal untuk sebuah proses belajar dan mengajar yang di anggap efektif. Idealnya, setiap kelas diisi tidak lebih dari 24 – 30 anak didik untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar yang maksimal.
Ketiga Masalah Distribusi Guru
Masalah distribusi guru yang kurang merata, merupakan masalah tersendiri dalam dunia pendidikan di kabupaten Turag terutama di wilayah rayon I. Di beberapa sekolah mendapatkan proporsi guru dengan kualifikasi akademik yang linier sudah dirasa cukup memadai. Akan tetapi ada beberapa sekolah yang memiliki jumlah guru yang banyak namun memiliki kualifikasi akademik yang tidak linier.Hal ini akan mengakibatkan proses belajar mengajar tidak optimal karena kompetensi akademik dari guru-guru tersebut masih perlu ditingkatkan kembali. Apalagi di daerah-daerah terpencil, masing sering kita dengar adanya kekurangan guru dalam suatu wilayah. Hal ini akan membuat pemerataan pendidikan tidak akan terwujud.
Keempat Masalah Kesejahteraan Guru
Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tingkat kesejahteraan guru-guru kita sangat rendah. Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, bila dibanding dengan PNS dari departemen yang lain, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer. Kondisi seperti ini, telah merangsang sebagian para guru untuk mencari penghasilan tambahan, diluar dari tugas pokok mereka sebagai pengajar, termasuk berbisnis di lingkungan sekolah dimana mereka mengajar. Peningkatan kesejahteraan guru yang wajar, dapat meningkatkan profesinalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru melakukan praktek bisnis di sekolah.

0 komentar:
Posting Komentar