EDS yang membuat kita terenyuh....

Posted by dade On Rabu, 12 Oktober 2011 0 komentar
Tak menyangka sedikitpun,ketika kita dihadapkan pada suatu fakta dilapangan dengan harapan yang tertulis dalam suatu standar membuat kita bingung dalam menentukan suatu pilihan.Inilah yang terjadi saat kita diwajibkan mengisi instrumen Evaluasi Diri Sekolah (EDS) secara jujur dan beratanggung jawab.Seperti apa yang didapat penulis dalam suatu kegiatan TOT capacity building dari Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan yang dilaksanakan di Grand Pasundan Hotel Bandung pada tanggal 10-14 Oktober 2011.

EDS adalah salah satu instrument untuk mengukur sejauh mana pencapaian implentasi Standar Nasional Pendidikan di dalam satuan pendidikan.Di dalam instrumen tersebut terdapat SNP dengan Aspek dan Indikator pencapaian yang dapat mengukur dan menganalisa sejauh mana suatu sekolah mengimplentasikan 8 standar tersebut.terdapat 3 format EDS yang digunakan secara resmi yang merupakan sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) yakni EDS Kuantitatif,Kualitatif dan On Line yang direleas oleh Dapodik.Ketiga format tersebut pada intinya sama memiliki tujuan mengukur ketercapaian,yang membedakan hanyalah teknik pengisian saja.EDS kuantitatif menggunakan pengukuran secara numeric atau angka-angka,sementara EDS kualitatif menggunakan descriptif dari bukti fisik tentang keunggulan dan kelemahan sedangkan EDS on line memiliki formula gabungan dari keduanya serta direalis secara online dari dapodik melalui situs nspn.dapodik.org.
Pengisia EDS sebetulnya sangat mudah secara teknik baik untuk EDS kuantitatif,Kualitatif maupun untuk On line,namun yang membuat kita susah adalah menentukan pilihan dihubungkan dengan fakta dan realita di sekolah.Ada beberapa hal yang membuat kita susah menentukan pilihan :
1. Pilihan harus mewakili 100% kebenaran dilapangan.
2. Yang mengisi belum tentu mengetahui secara comprehensif dari kondisi nyata dilapangan.
3. Belum dilaksanakan angket isian data kepada seluruh warga untuk mendapatkan data otentik.
4. Masih terdapat unsur perasaan self protection dari pengisi data itu sendiri.
Dari bebarapa alasan diatas yang paling menonjol adalah poin ke 4. hal ini mungkin disebabkan karena ketidaktahuan akan aturan pengisian data atau karena ada rasa gengsi menyampaikan fakta yang senarnya kepada umum.....(BERLANJUT)

0 komentar:

Posting Komentar